Minggu, Januari 19, 2003

KESANGSIAN DI KAKI BROMO

1
Kusangsikan malam ini kusangsikan. Tatkala ia datang menjemputku membisikkan rangkaian kata kasar tak ku pahami. Bahkan dengan cakar-cakar hitamnya ia merenggut hatiku dan ditelannya mentah-mentah sesepah serapah.
Kusangsikan malam ini kusangsikan. Tatkala dengan angkuh tak disisakan sesuatu. Hanya sepotong gamang mengambang memandang ketelanjangan-ketelanjangan terkekang peradaban.

2
Kusangsikan malam ini kusangsikan saat bintang menghilang menghapus inginku mencumbui jeruji waktu. Memburu tanya bagi bebukit kesunyian. Tak tersisa sesuatu bahkan hatiku.
Hanya sepotong bulan......



SKETSA DHUHA

kegersangan itu telah menghantar impian-impian kita pada keluguan bromo yang basah. sebasah rerumputan yang meningkahi kaki-kaki kita dengan nyanyiannya. serupa kegaduhan lawar membakar mulut kita mendawamkan sebuah penciptaan mekanika, seperti kecoa katamu. dan kita baca sketsa-sketsa masa lalu dalam bebatuan yang berkarat, udara telah menyetubuhinya sehingga ia bermetamorfosis menjadi begini merah, jelasku. dan kita membaca sedimen-sedimen yang terkotak-kotak membelah imaji kita pada endapan pasir membulir alir air. kecipak kecipiknya memuarakan kaki kita pada goa tak bernama. selain kegaduhan-kegaduhan semesta menyibak rahasia sempurna.
terpetalah mata kita pada awan yang bersidekap dengan udara. menjuntai-juntai ingin menjadi molekul-molekul kebebasan. tapi tak kita menyerpih sebab jasad masih mengurung tempurung otak kita. mungkin, jika saatnya kita kan terdispersi pula bersama surya membelah warna dalam temurunnya. semoga


CENDIL

Perempuankah engkau lelakikah? Ketika matamu mengerling segenit senyummu pancangkan aduh dalam hatiku. Berapa kejadiankah telah menancapkan taringnya sedalam-dalam tikungan?Mengelepar-geleparkan tingkahmu dari keniscayaanmu.
Perempuankah engkau lelakikah? Ketika suaramu mendayu menggamit seringai tawa dari usil sentil lelaki. Terbitkan akumu dalam ketiadaan. O... Cendil.


NUKLEUS

Usah kau telusuri setiap inchi ngeri yang terpahat dalam dinding-dinding malam, seakan ingin dirasuki sebilah desah gelisah dalam kubur yang telah terbangun berabad silam.
Takkah kau tahu ?

Telah tertanam sebait nama tak terusikkan. Lelaki bernama penerimaan. Kucumbui ia selalu meski dalam bisu. Kedekatan yang ku ziarahi dari waktu ke waktu.
Takkah kau tahu?

Usah tunggu jawabku.


KIDUNG SELEMBAR NYAWA

Selembar nyawa telah menyatu bersama taktiktak udara terhempas dalam kidung semesta menari-nari ditingkah sedekap awan. Ada yang terbang di antara tebing bebukitan tenggelamkan kepasrahan yang menjadikanya tahu artinya rindu. Rindu pada keheningan yang menelanjanginya dengan aroma dedauanan. Rindu pada kesejatian yang menjadikannya atom-atom yang berserakan mengelupas helai demi helai menjadikannya sebiji inti.
Selembar nyawa telah tercabut dari raga ditingkahi udara begitu deras menghantam-hantam hijau pananjakan. Memadu kasih dengan cumbuan-cumbuan semesta menjadikannya tahu artinya kehidupan. Kehidupan yang telah lama hilang diantara mayat-mayat berjalan diantara kubur-kubur kemegahan sintesa. Hingga lepaslah lepas tawa membuncah rongga dada yang mapat oleh seringai canda kegetiran.
Selembar nyawa melesatlah melesat menanggalkan spin-spin elektron menuju positronnya ketika aku adalah dia dan dia adalah aku berpadu dalam orbit kepastian meninggalkan radikal-radikal kegamangan.

(meski budak waktu terlalu cemburu memangsa nyawa kembali pada kematiannya)

UPACARA HAWA

1
malam hitam turun dari selembar tinta berbau amis. ada yang menangis
merembes diantara jemarimu sebait puisi yang kau tanggalkan diam-diam tenggelam setubuh gelisahku dalam bisumu
begitu indah dirimu, tak kah kau tahu? hingga musim pun enggan beranjak meninggalkan.netes kelopaknya ingin memeluk wangi tubuhmu.tapi mengapa kau katakan tidak

2
dan kau pun berlari memburu sunyi. memintal anganmu pada langit yang tinggi.meninggi hasratmu pada lengking memburu jasadmu ketakutan. berlarian tak henti mencaci.
apakah yang kau cari di malam simpan dendam? hingga musim pun enggan bermesraan dengan telanjang indah kakimu tancapkan kegaduhan

3
sampai juga kakimu di kegaduhan upacara hawa. ada yang tertawa
menari-nari engkau berputaran melesat beribu panah dari dadamu memburu udara mencakar-cakar angkasa teriakan-teriakan haus di sebalik keringat airmata jatuh dari kaki langit. menderas keringatmu mengucur hancur menjadi puing-puing kerontang tak bernyawa. setubuh gelisahmu bergelinjangan berpelukan menandai keperihan

4
dalam malam sesunyi ini.tak ada lagi yang tersisa dari mayat penuh luka. hingga pecah tawamu menjadi gerimis. memanah bumi tinggal peti. merembes di antara selarik nyawa tersisa. begitu lelah dirimu, tak kah kau tahu? hingga musim pun enggan menemani sesunyi diri ingin mencari. amis puisi yang kau muntahkan dari rahimmu


PERCAKAPAN SENJA

melesat udara dari sebuah negeri bernama entah. sedesah resah yang berdesakan di wajah gelisah. sebait senja
segerah jingga yang kau warnai dalam peluk bumi. khalifahlah engkau yang kehilangan sepincuk nasi.hingga lapar jua menggerogoti kisut marut usia berjelaga tanya
sampai dimana kiranya kaki berlari?


ALAQ

(ikat dan peluklah hingga meniada kata dalam rahim simpan rahasia)

telahkah sampai tuju pada tunggu selesat isyarat terbaca dari sebuah negeri yang asing. hingga tak dipeduli kembali darimana asalmu mengadu. pertaruhkan mati atau menemu dalam problabilitas seperatus jutamu.

hingga leburleburlah dalam sebulir desir mengail satuduaempatdelapan dalam
sehalaman ayat bertuliskan:

alaq!

Puisiku Jadi Lagu